Rabu, 07 Oktober 2009

Macet Lagi Macet Lagi

Jakarta ga lepas dari kata macet. Dimana-mana pasti macet. Sekarang bukan hanya di jalan raya tetapi di gang perumahan karena banyak pengendara mengambil jalan alternative untuk menghindari macet karena sekian banyaknya pengendar mengambil jalan pintas gang perumahan menjadi rame kendaraan dan menyababkan macet juga.

Kemacetan terjadi karena banyaknya kendaraan bermotor tetapi panjang dan lebar jalan sangatlah sempit. Pemerintah sudah menyediakan berbagai macam alternative seperti pelebaran jalan, jalur 3 in 1 (Three in One), disediakannya busway tetapi kenapa Jakarta masih macet .??

Bukan hanya kendaraan yang banyak tetapi para sopir angkot yang sembarangan ngetem mencari penumpang. Tidak hanya ngetem sembarangan tapi kalo udah ngetem jalannya lama banget dan klo jalan ugal-ugalan (sembarangan). Kenapa sopir angkot identik dengan itu. Hal yang seperti inilah membuat orang segan naik angkot karena jika orang tersebut sedang terburu-buru tetapi karena angkot tersebut lama orang jadi kesal dan akan males naik angkot sehingga orang akan menggunakan kendaraan pribadi karena merasa lebih nyaman, Karena hal tersebutlah jumlah kendaraan pribadi di Jakarta semakin banyak karena pengguna jalan merasa jumlah kendaraan tidak dibatasi dan tidak adanya kendaraan umum yang memadai.

PERSAINGAN REKAN KERJA

Dalam setiap lingkungan kerja pasti ada persaingan dalam memperebutkan kedudukan yang lebih tinggi atau persaingan untuk mencapai hasil yang lebih baik. Hal ini lumrah dan sangat baik untuk sebuah kemajuan perusahaan karena setiap orang akan memberikan kontribusi yang baik dan menonjol bagi Perusahaan. Tetapi Mengapa dalam memperebutkan suatu kedudukan tersebut ada saja orang-orang yang tidak dapat bersaing secara sehat dengan melakukan hal-hal yang negative seperti mencari muka di depan atasan dengan cara menjelek-jelekan rekan kerja, serta melakukan hal-hal yang curang untuk menyingkirkan seseorang yang dianggap menjadi pesaing bisnis dalam mencapai tujuannya. Hal inilah yang dapat merugikan banyak pihak. Bukan hanya orang lain yang rugi tetapi juga kita yang menjatuhkan, Rekan kerja kita yang lain yang mengetahui hal itu pasti akan enggan berteman dengan kita. Serta orang yang kita rugikan sangatlah terpukul, dia akan mengalami hidup yang sulit karena dia kehilangan pekerjaannya dan dia tidak dapat lagi memberikan nafkah kepada keluarganya lagi, anak-anak mereka terancam putus sekolah, bagaimana jika mereka sampai putus sekolah bagaimana meraka mencapai citi-cita meraka.

Mengapa hal ini dapat terjadi.???
Mengapa kita “Susah melihat orang lain Senang dan Senang melihat orang lain Susah”

Kita tanya pada diri kita sendiri, Apakah kita mempunyai hati nurani yang dapat bersaing secara sehat dan dapat menerima kekalahan.??? Apa kita mempunyai etika persaingan yang baik.???

Bagaimana jika itu terjadi pada kita, Jika kita yang disingkirkan dengan tidak baik pasti kita sangat kesal, kita kehilangan pekerjaan, Bagaimana persaan kita jika ternyata yang menjatuhkan kita itu adalah teman kerja kita yang sangat dekat dengan kita.???

Perilaku tidak baik ini dapat hilang dan tidak terjadi dalam lingkungan kerja kita, jika kita dapat menerima kekalahan dan kita senang melihat orang lain sukses serta mempunyai rasa kekeluargaan dan saling membantu dalam mencapai kemajuan perusahaan. Sesungguhnya segala sesuatunya baik rezeki, jodoh, hidup dan mati kita itu sudah diatur oleh Allah Maha Kuasa. Kita terima segala sesuatunya dengan ikhlas pasti kita akan mendapatkan yang lebih baik jika kita pandai mensyukuri segala rezeki yang diberikan oleh Allah Yang Maha Pengasih.

Jika kita sudah mendapat kesuksesan janganlah kita menjadi sombong dan lupa terhadap teman-teman seperjuangan kita karena bantuan merekalah kita dapat meraih kesuksesan.

Senin, 05 Oktober 2009

Jasa konsultasi Skripsi: Disyukuri atau Dikutuk

Jasa konsultasi skripsi tumbuh bak jsmur. Semula jasa semacam itu diberikan secara perseorangan dan diam-diam antara teman. Kegiatan antar teman meningkat menjadi kegiatan "profesional" yang berbentuk usaha yang mengiklankan di koran. usahanya tentu mempunyai modal dasar yaitu kumpulan skripsi yang mencakupi berbagai bidang studi dan topik, jurnal (kopian dan asli),dan basis data. Mahasiswa tidak perlu mencari data yang diperlukan tinggal membeli data siap olah. Peminat dapat membeli skripsi dengan judul apapun dan skripsi tadi diantar kerumah.
Bisnis ini semakin menggiurkan karena banyk pejabat, mantan pejabat, eksekutif, atau pebisnis bahkan selebritis yang mengambil program S3 yang sebenarnya tidak punya waktu atau motivasi belajar untuk merenung atau tidak mempunyai kemampuan menulis sehingga tidak ada cara lain kecuali memanfaatkan jasa tersebut. Peserta program S3 yang berduit konon membentuk tim sukses dari kalangan akademik untuk menyelesaikan disertasi dengan bayaran yang mendorong akademis melanggar integritas akademik.
Bisnis ini ternyata mempunyai perpustakaan berupa ratusan skripsi, tesis, dan disertasi. Jasa yang diberikan antara lain sekedar memfotokopi skripsi yang sesuai dengan topik sampai membuatkan skripsi tersebut (mengetikkan proposal, menyarankan jawaban atas pertanyaan pembimbing, merevisi sampai skripsi disetujui, menjilidkan, dan latihan ujian pendadaran). Beberapa pemberi jasa memberi garansi “DIJAMIN SAMPAI LULUS.” Ketika ditanya apakah jasa semacam itu tidak menimbulkan hal yang kurang baik dan etis dalam kontesk pendidikan nasional dan tujuan penulisan skripsi, seorang pemberi jasa mengatakan : “nyatanya banyak yang datang ke saya dan tidak ada peraturan yang melarang.
Seorang pengguna jasa yang telah lulus sebagai seorang sarjana mengakui:"Saya memang menggunakan jasa konsultan karena mudah ditenui dan dihubungi. Konsultasinya juga enak dan lebih baik dari dosen pembimbing saya. Setelah saya konsultasi dengan jasa pembimbing, saya mendapat pengarahan yang baik bahkan setengahnya dibuatkan saran-saran perbaikan. Saya juga belajar banyak dari pemberi jasa. setelah saya ajukan ke dosen pembimbing, ternyata dosen saya terkesan dan mengACCSkripsi saya.Mahasiswa pengguna jasa yang masih menyusun skripsi mengatakan: "Mengapa harus repot-repot nulis skripsi. Yang penting jadi dan lulus karena skripsi tidak dibutuhkan dalam pekerjaan.
Para dosen yang dimintai tanggapan mengenai hal ini menyatakan bahwa meraka tidak mempunyai cara mengecek apakah skripsi merupakan hasil pekerjaan menyontek atau hasil pembmbingan komersial pokoknya. kalau mahasiswa daprt menjelaskan dengan baik apa yang ditulisnya para dosen sudah cukup puas debngan skripsi tersebut.
seorang dosen menyatakan: "saya tidak setuju adanya skripsi. Skripsi hanya membebani dosen. Yang relistik saja, saya tidak mungkin membimbing 10-15 mahasiswa dalam satu semester dan kalu tidak selesai dalam satu semester pekerjaan makin menumpuk. karena dipaksakan, akhirnya apapun yang diajukan mahasiswa saya setuju saja."